allwaygroup is the owner of www.allwaysdream.com

Kami adalah kelompok usaha yang memperoleh pendidikan melalui Koperasi Mahasiswa ITB Ahmad Dahlan, agar kami dapat Beridiri di atas Kaki Sendiri dan kami adalah anggota KOPMA ITB-AD

Kami adalah Kader Koperasi Mahasiswa Institut Bisnis Ahmad Dahlan Jakarta

Lakukanlah perubahan mulai dari sekarang, sekecil apapun itu mulai dari dirimu sendiri. KOPERASI BERDIRI MAHASISWA BERDIKARI

Space Available

Cocok buat iklan perusahan kamu.

Space Available

Cocok buat iklan perusahaan kamu.

Space Available

Cocok buat iklan perusahaan kamu..

Thursday, January 31, 2019

Koperasi Mahasiswa ITB AD Bikin Aplikasi Android Toko Online

Koperasi Mahasiswa ITB AD Bikin Aplikasi Android 
TOKO ONLINE
Aplikasi Toko Kopma ITB AD
Belum lama ini Kampus Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Ahmad Dahlan (STIE AD) telah melakukan pengembangan menjadi Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan (ITB AD) yang dimana hal tersebut di resmikan melalui Surat Keputusan Kementerian Riset dan Teknologi - Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (KEMENRISTEKDIKTI). 
Melihat perkembangan zaman yang semakin maju membuat kampus ini turut serta mengikuti perkembangan zaman agar tidak tertinggal, apalagi zaman sekarang sudah hampir semuanya menggunakan teknologi digital. Perubahan nama menjadi institusi ITB AD menjadi giroh bagi para mahasiswanya agar dapat mengikuti perkembangan kampusnya ini.
Ide cemerlang yang dilakukan oleh salah satu Lembaga Mahasiswa di kampus ITB AD yaitu Koperasi Mahasiswa atau  biasa kita kenal dengan nama KOPMA, membuat sebuah inovasi Aplikasi Toko Online yang berbasis Android, dengan hanya bermodalkan Rp. 100.000 dari patungan mahasiswa yg tergabung di Kopma ini dapat membuat aplikasi canggih tersebut.
Hal itu termotivasi dari founder aplikasi "BUKALAPAK" yang dimana dibuat oleh mahasiswa ITB Bandung dengan keisengannya membuat toko online yang hanya bermodalkan Rp. 80.000 hingga sukses sampai sekarang menjadi salah satu aplikasi terbesar dan tentu mendapat apresiasi banyak orang termasuk presiden Republik Indonesia. "Semoga ya teman-teman anggota kopma, modal Rp. 100.000 "Toko Kopma" bernasib yang sama". motivasi M. Zulkifli selaku salah satu Founder KOPMA STIEAD dalam pesan Whatsapp Group.
Kini Aplikasi Toko Online ITB AD dapat di download secara GRATIS di Google Playstore dan akan di Launching bertepatan dengan Rapat Anggota Tahunan (RAT) kopma nanti dibulan Maret mendatang agar dapat digunakan secara resmi bagi para mahasiswa maupun non mahasiswa ITB AD untuk menikmati pelayanan dari KOPMA ITB AD.
Dengan cara yang sangat mudah :
1. Buka aplikasi Google Playstore di Android. klik disini
2. Ketik di mesin pencarian (Search Engine)
Tampilan Aplikasi Toko Kopma ITB AD mode Desktop
3Maka aplikasi "Toko Kopma ITB AD" akan muncul dan dapat di Download, Lalu Install                     dan siap menikmati pelayanan dari KOPMA ITB AD. 


....coming soon launched....
RAT MARCH 2019



Wednesday, January 30, 2019

Membangun Naluri Koperasi Lewat Kaderisasi

MEMBANGUN NALURI KOPERASI LEWAT KADERISASI 
Opini : Aldy Wirawan, H.C


www.google.com
Minat anak muda untuk berkoperasi semakin berkurang. Padahal banyak manfaat yang didapat dengan mengikuti koperasi, terutama untuk mahasiswa. Dengan mengikuti koperasi, dapat meningkatkan insting (naluri) berwirausaha bagi para mahasiswa, juga akan bermanfaat baginya ketika memasuki dunia kerja, bahkan dapat turut membuka peluang kerja.

aktif di koperasi, mahasiswa juga dapat membangun kepekaan sosial dan sifat kepemimpinan. Inilah yang dapat jadi bekal mahasiswa ketika lulus nanti. Ia pun berpesan kepada para mahasiswa agar selalu jeli melihat peluang yang ada.

Kepala Lemabaga Pendidikan Perkoperasian (Lapenkop) Jawa Barat, Asep Saep Nurdin mengatakan bahwa dengan mengikuti koperasi, mahasiswa melakukan proses pemagangan. “Di Kopma, 50% Anda belajar, 50% Anda mulai masuk ke dunia entrepreneur,” ujar Asep.

aktif di koperasi sejak mahasiswa, kedepannya mahasiswa dapat menjadi pionir di masyarakat. “Anda akan menjadi orang yang diburu oleh orang lain karena Anda adalah orang yang betul-betul bisa menciptakan lapangan pekerjaan.

mahasiswa dapat mengkoordinir aktivitas dan kebutuhan terkait anggotanya. Para anggota yang sudah memiliki usaha sendiri pun dapat bernaung di bawah koperasi mahasiswa. Bukan hanya terkait memasarkan produk, tetapi juga koperasi berkewajiban untuk membantu meningkatkan kualitas produknya. Karena fungsi utama koperasi adalah memajukan ekonomi dari anggotanya.

“Bisa tidak anggota Kopma yang punya usaha kemudian memasarkan produknya di koperasi? Sangat bisa sekali dan itu adalah kewajiban dari koperasi. Kewajiban koperasi adalah mempromosikan ekonomi anggotanya.

 bahwa perlu ditingkatkan rasa bangga dan tingginya partisipasi dari seluruh anggota koperasi. Tingginya partisipasi anggota dapat memberikan manfaat dan keuntungan bagi anggota itu sendiri.

terdapat lima jenis partisipasi yang perlu ditingkatkan oleh anggota.

Pertama, partisipasi permodalan yakni kesediaan anggota untuk menyimpan modal di koperasi. Modal yang di maksud tidak terbatas pada materi, bisa juga berupa ide usaha dan masukan bagi koperasi.

Kedua, partisipasi pengambilan keputusan yakni setiap anggota harus aktif mengikuti setiap rapat dan diskusi yang dilaksanakan serta memberikan masukan dalam pengambilan keputusan.

Partisipasi ketiga adalah partisipasi mengawasi,yakni anggota harus aktif mengawasi proses berjalannya koperasi sehingga ketika terjadi penyimpangan atau ketidaksesuaian dalam pelaksanaannya, anggota dapat memberikan teguran atau masukan kepada pengurus.

Keempat, partisipasi menanggung risiko yakni kesediaan anggota untuk ikut menanggung risiko ketika koperasi mengalami kemerosotan.

Kelima, partisipasi memanfaatkan palayanan yakni anggota bersedia untuk memanfaatkan produk atau jasa yang ditawarkan oleh koperasi sehingga koperasi memiliki pelanggan.

Bagaimana mengembangkan Produk yang harus memenuhi kebutuhan pelanggan?

Produk yang kita ciptakan harus memenuhi kebutuhan pelanggan, bukan bagaimana penjual memandang produk tersebut. Kalaupun produk yang diciptakan sudah memenuhi kebutuhan pelanggan, sebagai pebisnis tetap harus membuat ide untuk mengembangkan produk lainya. Yang paling penting adalah bagaimana kita dapat melakukan pemasaran produk kita sendiri agar lebih banyak di kenal oleh banyak pelanggan lainnya.
Yakinkan diri kita sendiri untuk berpikir kreatif
Untuk mengembangkan bisnis dan menciptakan produk sendiri, maka di tuntut untuk berpikir lebih kreatif. Pancinglah kreatifitas kita sendiri untuk dapat mengembangkan bisnis kita dan menciptakan produk sendiri. Tentunya dengan berpikir kreatif kita akan menjadi lebih terbiasa untuk mendapatkan ide dalam mengembangkan produk. Cara untuk kreatif juga banyak sekali lho, contohnya bisa dimulai dengan benchmarking para pesaing dan membuat inovasi baru.
Apa yang sudah kita raih dan kita ciptakan hari ini merupakan kerja keras dari hasil pikiran kreatif kita, tetapi jangan pernah merasa cukup untuk apa yang kita dapatkan dalam menjalankan bisnis. Kita harus terus selalu berpikir bahwa bisnis yang kita jalankan esok hari harus lebih baik dari hari ini. Pastinya dengan begitu kita akan selalu mempunyai ide dalam mengembangkan produk dan bisa menjalankan bisnis nya lebih besar lagi.
"Kita bisa memulai dengan membangun kader yang akan mengawal pembangunan koperasi Mahasiswa ini. Pembangunan koperasi butuh waktu yang lama. Karenanya harus ada kader-kader yang siap mengawal”, jawab penulis. Jumlah kader bila ada 20-30 orang yang jika memungkinkan dari anggota muda. Tapi tetap ada Demisioner juga untuk mengawal spiritnya. Soal komitmen, Demisioner dan anggota muda bisa sama-sama kuatnya. Namun soal kecepatan dan energi, anggota muda bisa diandalkan. (Terbit TangselPos, Kamis (31 Januari 2019, hal 6))





Terbitan Koran TangselPos, Edisi Kamis (31/01/2019)




Writer :
Aldy Wirawan, H.C
 aldoet_schatzi

Kader KOPERASI MAHASISWA ITB-AD

Sunday, January 27, 2019

Asah Kreativitas, Generasi Milenial Harus Siap Bersaing di Mata Dunia

Asah Kreativitas, Generasi Milenial Harus Siap Bersaing di Mata Dunia

Penulis : Aldy Wirawan, H.C



www.google.com
GENERASI muda jangan takut bersaing di era digital saat ini. Banyak cara untuk untuk mengembangkan bakat dan kreativitasnya yang bisa dilakukan.

Anak-anak milenial harus selalu melek teknologi supaya tidak ketinggalan untuk mendapatkan informasi di bidang apapun. Dalam menggunakan media sosial, juga harus dimanfaatkan secara positif.

Buktinya saat ini banyak Influencer muda berbakat di banyak bidang. Anak-anak sudah terbukti kreatif dalam membuat konten positif seputar mode, kecantikan, kesehatan, liburan, promosi kuliner dan banyak bidang lain.

Pemerintah juga mendorong agar generasi muda berani mengembangkan kreativitas di bidang apapun demi bisa menghasilkan uang. Hal itu dilakukan agar mereka tidak takut bersaing di kancah dunia.

Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia Hanif Dakhiri mengatakan, pengembangan diri merupakan salah satu faktor penting meningkatkan daya saing generasi muda Indonesia, ditengah persaingan global. Anak muda diyakini punya banyak keterampilan di luar akademis yang bisa dikembangkan.

“Generasi muda harus memiliki keterampilan lain di luar akademis. Terlebih yang bersertifikat khusus agar dapat bersaing di tengah era globalisasi,” ujarnya lewat siaran pers yang diterima Okezone, Jumat (20/4/2018).

Sayangnya, minimnya waktu, akses, biaya dan jaringan menjadi permasalahan yang dihadapi oleh anak-anak milenial dalam mengembangkan keterampilannya. Mereka hampir tidak punya waktu lain untuk mengikuti kursus.

Berbeda halnya dengan anak-anak generasi zaman dulu, di luar mengikuti pelajaran di sekolah, mereka menyempatkan untuk kursus. Misalnya anak-anak mengembangkan bakatnya di dunia kecantikan, lini mode, olahraga, seni music, seni tari, teater dan lain sebagainya.

Padahal menurut Chief Operating Officer Rubelon Halim, anak milenial harus mengembangkan potensi bakatnay di banyak bidang. Mereka harus meningkatkan daya saing, serta mengembangkan diri di tengah persaingan era global.

“Kursus pengembangan bakat saat ini tidak hanya datang dan diajarkan oleh guru. Tapi bisa mengikuti tes dan kursus digital,” tambahnya.

Apalagi saat ini, seseorang yang ingin menimba banyak ilmu itu tidak mengenal batasan usia. Semakin besar potensi pengembangan diri di bidang apapun, orang akan lebih mudah bersaing dan mendapat penghasilan tinggi. Hal inilah yang harus didapatkan anak-anak milenial agar tidak tertinggal.

“Saya sendiri sebagai praktisi ingin terus belajar namun seringkali terkendala hal waktu dan kesempatan. Sebenarnya banyak permasalahan yang bisa dipecahkan dengan metode,” ujar CEO Rubelon Syarif, menutup pembicaraan. (Terbit Koran TangselPos, Edisi Senin (28 Januari 2019)



Terbit Koran TangselPos


Writer :
Aldy Wirawan, H.C
 aldoet_schatzi

Kader KOPERASI MAHASISWA ITB-AD

Koperasi Mahasiswa Membangun Starup


Koperasi Mahasiswa Membangun Starup

PenulisAldy Wirawan, H.C

https://digitalentrepreneur.id/poin-penting-startup/
Pernahkah Anda bayangkan akan seperti apa jika Tokopedia, Bukalapak, atau Shopee dimiliki bersama oleh orang-orang yang bertransaksi di dalamnya, yaitu para penjual dan pembelinya?

Atau Gojek dan Grab melakukan pengambilan keputusan dengan melibatkan para driver dan konsumennya dalam suatu struktur formal?
Bagaimana jika Ruang Guru dimiliki bersama oleh para guru, murid, dan orang tua murid sebagai pihak yang paling sering memanfaatkan platform tersebut?
Ketika suatu platform digital dimiliki dan dikendalikan bersama oleh para pihak yang bertransaksi dan bergantung di dalamnya, ia disebut sebuah Platform Cooperative.
Apa dampak positif dan negatifnya? Kenapa ide Platform Cooperativism bermunculan di seluruh penjuru dunia? Bagaimana perkembangan terbaru dari gerakan ini?

Apa itu Platform?
Sangeet Paul Choudary, penulis buku Platform Revolution dan Platform Scale, mendefinisikan platform sebagai berikut:
Intinya, platform adalah model bisnis yang tujuan utamanya adalah mempertemukan produsen dengan konsumen dan memfasilitasi transaksi antar keduanya.

Bentuk paling sederhana dari platform yang dapat kita temui sehari-hari adalah berbagai bentuk pasar (tradisional, mal, supermarket).

Di Indonesia pun startup yang paling besar dan terkenal saat ini adalah para platform seperti Gojek, Grab, Tokopedia, Bukalapak, Shopee, Traveloka, dan Tiket.

Untuk beberapa tahun ke depan, platform digital tetap akan menjadi primadona. Perhatikan saja di Indonesia ada berapa banyak founder startup yang di dalam presentasinya memuat frasa “mempertemukan x dengan y”.

Apa itu Koperasi?

Krisis ekonomi 2008–2009 menjadi titik puncak dari kegerahan banyak orang terhadap kapitalisme. Banyak orang mulai sadar bahwa perusahaan global akan selalu mengutamakan profit daripada karyawan, komunitas sekitar, maupun dampak lingkungan.

Kegerahan ini diperparah dengan masalah terbesar abad ini, kesenjangan ekonomi, yang semakin menjadi-jadi. Situasi ini membuat orang-orang bertanya, adakah sistem ekonomi yang lebih baik dari yang sekarang?

Jawabnya: ADA. Bagi masyarakat Indonesia seharusnya ini bukan hal yang aneh, karena jawaban ini ada dalam konstitusi negaranya.

Koperasi adalah jawaban dari carut marut dan kesenjangan ekonomi yang ada kini. Sistem ekonomi yang telah dimiliki Indonesia sejak dulu kala dan tercantum dalam Pasal 33 UUD 1945.

Menurut International Co-operative Alliance (ICA), koperasi adalah:

people-centred enterprises owned and run by and for their members to realise their common dreams

Frasa yang merupakan inti dari koperasi adalah “owned and run by and for their members”, dimiliki dan dikelola oleh dan untuk anggotanya. Dua kata kunci tersebut menjadikan koperasi sebagai realisasi nyata demokrasi ekonomi.

Konsekuensi dari kepemilikan yang demokratis adalah usaha tersebut dimiliki oleh banyak orang, bukan hanya sekelompok pemodal. Artinya, surplus usaha (profit) akan dibagikan kepada banyak orang, bukan hanya segelintir orang.

Konsekuensi dari pengelolaan yang demokratis adalah penentuan keputusan berbasis 1 orang 1 suara. Format ini mencegah kepentingan sebagian kecil orang mengalahkan mayoritas orang.

Platform + Koperasi = ?

Kalau dua kata di atas digabungkan maka akan didapatkan platform cooperative (disingkat platform co-op), sebuah istilah yang dipopulerkan oleh Trebor Scholz, seorang Asisten Profesor di New Scool University New York.

A platform co-op is a digital platform that is collectively owned and governed by the people who depend on and participate in it — Shareable

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, startup digital dalam bentuk platform adalah hal yang biasa. Tetapi akan menjadi tidak biasa jika prinsip-prinsip koperasi dimasukkan ke dalamnya.

Telpon Kopma adalah  platform yang menghubungkan antara penyedia jasa Percetakan, Jasa  dan masih banyak lagi — dengan orang yang membutuhkan jasanya. 

Para anggota tersebut telah berkontribusi kurang lebih dari 200 Orang dalam mengembangkan koperasi ini. Platform co-op yang lahir di Kalangan Mahasiswa pada tahun 2017 ini memiliki komitmen yang kuat untuk membangun ekonomi yang lebih merata. (Terbit TangselPos, Sabtu & Minggu (26 Januari 2019).




Terbitan Koran TangselPos

Writer :
Aldy Wirawan, H.C
 aldoet_schatzi

Kader KOPERASI MAHASISWA ITB-AD

Wednesday, January 23, 2019

KOPERASI MENUJU PERUBAHAN

KOPERASI MENUJU PERUBAHAN
Opini : Aldy Wirawan, H.C


Banyak yang gelisah kenapa dari dulu jenis usaha koperasi, kalau tidak simpan pinjam ya konsumsi. Belum pernah tersiar ada bisnis kafé, hotel, bengkel, atau kedai kopi yang asyik untuk kumpul yang dikelola secara koperasi. Bahkan penjual pecel lele, nasi goreng, atau angkringan pinggir jalan juga tidak pakai konsep koperasi.

Di Indonesia koperasi itu kadang lebih mirip ormas dibanding sebuah perusahaan. Usaha milik orang  banyak dengan pengurus yang sudah tua dan ringkih. Kebanyakan dikelola sambilan (samben), karena pekerjaan utamanya adalah karyawan atau pegawai negeri. Sehingga secara kapasitas bisnis tetap berjalan, anggotanya banyak tapi tidak sejahtera, kecuali pengurusnya.

Usia gerakan koperasi di negera ini sudah lebih dari setengah abad, bahkan lebih dua kali lipat dari usia saya, tapi tidak ada perubahan yang berarti. Tidak ada semacam refleksi, belajar pada kekeliruan praktik di masa silam. Langgam koperasi dari dulu nadanya tetap sama. Misal, membangun usaha kolektif untuk kesejahteraan bersama. Tapi faktanya apakah begitu? Tidak.

Koperasi dianggap cocok karena ia selaras dengan budaya gotong royong yang sudah ada di masyarakat. Modalitas sosial, dalam bentuk gotong royong, bisa dikonversi menjadi modalitas ekonomi, kira-kira begitulah asumsinya. Jadi, bayangkan orang sekampung gotong royong membangun bisnis. Mengumpulkan modal, menggunakan layanan lalu akhirnya sejahtera bersama. Terdengar mulia sekali bukan? Tapi praktiknya tidak seindah rencana.

Karena pada praktiknya, budaya kerjasama atau gotong royong tidak cocok digunakan sebagai modalitas bisnis. Alasan orang mau membantu tetangga menanam padi, membangun masjid atau jalan di desa, itu karena ingin membantu saja. Ikhlas, tanpa pertimbangan untung atau rugi. Mungkin alasan lainnya, bisa juga karena takut kena sanksi sosial jika mangkir kerja bakti.

Sementara koperasi adalah bisnis, bukan lembaga sosial. Membangunnya tidak bisa dengan motif tidak enakan, karena ikut-ikutan atau tanpa pamrih. Seharusnya masuk koperasi tidak mengharap apa-apa kecuali rida Tuhan, namun sayangnya, justru itulah potret alasan orang berkoperasi hari ini. Menjadi anggota koperasi bukan karena paham apa maksud koperasi, tapi karena diajak pengurus yang juga tetangganya. Gak enak kalau gak ikut.

Selain itu, koperasi sering dipahami sebagai kumpulan orang yang memiliki usaha bersama. Kumpulan itu artinya banyak orang, ada massa disana. Jadi bisnis koperasi dibangun dari paham kerumunan semacam, jenis usaha apa yang sekiranya cocok untuk orang banyak. Sehingga yang muncul jenis usahanya kalau tidak  konsumsi ya simpan pinjam.

Bisnis dealer mobil, salon kecantikan, bengkel atau bahkan start-up tidak akan bisa muncul dengan paham koperasi semacam itu. Maka wajar jika koperasi dari dulu bisnisnya tidak berkembang banyak. Salah satu karakter masyarakat Indonesia, selain gotong royong adalah musyawarah. Kita punya pijakan budaya yang kuat untuk yang satu ini, sama seperti gotong royong. Setiap daerah punya budaya ini dengan nama yang berbeda, semisal rembug atau karapatan nagari. Dan ini adalah modalitas sosial yang cocok untuk bisnis, sebagai mekanisme tata kelola.

Koperasi sebagai perusahan yang dikelola secara demokratis, relevan dengan budaya musyawarah yang sudah ada di masyarakat. Sehingga bagaimana proses produksi dilakukan, seperti apa mekanisme pembagian upah, dan kemana perusahaan akan di arahkan dilakukan dengan cara musyawarah, atau dalam bahasa modern, melalui mekanisme demokrasi. Namun sayangnya, budaya musyawarah ini yang kerap diabaikan, tidak dilihat sebagai modalitas sosial yang penting. 

Di Bali, 79 koperasi dibekukan karena tidak menyelenggarakan Rapat Anggota Tahunan (RAT), yang notabene-nya adalah forum musyawarah tertinggi di koperasi. Selain di Bali, tentunya masih banyak lagi koperasi di daerah lainnya yang dibekukan akibat tidak menyelenggarakan RAT.
Definisi koperasi yang tepat, menurut saya, bukan kumpulan orang yang memiliki usaha, tapi perusahaan yang dikelola secara demokratis yang dikendalikan dan dimiliki bersama. Untuk membuat perusahaan yang demokratis tidak harus mengajak orang satu kampung, berdua saja seharusnya sudah cukup. Jumlah keanggotan bisa bertambah seiring pertumbuhan bisnis. Sehingga jika ingin membuka dealer mobil, bisnis café, salon kecantikan, bahkan membuat warung pecel lele di pinggir jalan sangat memungkinkan. 

Di Amerika Serikat, mereka yang jengah dengan bisnis konvesional mendirikan bisnis yang dikelola secara demokratis. Mereka menamakannya worker cooperative (koperasi pekerja). Tapi bukan koperasi karyawan, melainkan Koperasi Pekerja adalah perusahaan dimana orang mendapat penghasilan di perusahan yang ia miliki sendiri. Jadi ia berperan sebagai pekerja sekaligus pemilik.

Salah satu contohnya adalah Up and Go, start-up yang bergerak di bidang home care  di New York. Perusahaan itu dimiliki dan dikelola secara demokratis oleh para pekerjanya. Ada juga Stocksy, start –up yang mirip seperti shutterstock.com, flatform jual beli foto dan video di Internet. Bedanya flatfrom ini dikelola secara demokratis oleh para fotografer yang menjadi anggotanya. Selain mendapat fee dari hasil penjualan, para seniman foto juga mendapatkan dividen dari flatformnya.

Lalu mengapa di Indonesia tidak ada jenis bisnis koperasi semacam Up and Go dan Stoksy? Apakah orang Indonesia tidak secerdas orang Amerika? Oh, tidak. Nadiem Makariem adalah orang Pekalongan. Ahmad Zacky juga bukan orang Amerika. Soal jenis bisnis koperasi dari selalu simpan pinjam dan konsumsi adalah akibat dari sistem. Sistemlah yang membuat wajah gerakan koperasi tetap seperti hari ini, dan tidak pernah diperiksa ulang. Seperti kata Socrates, “hidup yang tak pernah diperiksa tak layak dijalani”. Begitu juga dengan sebuah gerakan, jika tak pernah diperiksa, ia tak layak diikuti. (Terbit : TangselPos, 23 Januari 2019)
Capture : Terbitan Koran TangselPos


Writer :
Aldy Wirawan, H.C
 aldoet_schatzi

Kader KOPERASI MAHASISWA ITB-AD

Thursday, January 17, 2019

PERAN MAHASISWA DALAM PENANGGULANGAN BENCANA


PERAN MAHASISWA DALAM PENANGGULANGAN BENCANA
penulis : Agus Ardiansyah
Foto : nasional.kompas.com

Di awal tahun 2019 ini penduduk dunia khususnya masyarakat Indonesia, sudah di khawatirkan dengan kabar-kabar yang kurang mengenakkan ditelinga para masyarakat, yaitu bencana alam. Apalagi dipenghujung tahun 2018 kemarin masyarakat Indonesia mulai dihantui akan ketakutan yang melanda setiap penduduknya. Bencana itupun beragam, mulai dari kebakaran hutan di Sumatera, banjir di Jawa, gempa di Lombok, Tsunami di Sulawesi, gunung meletus di Bali, Kekeringan di Nusa Tenggara, dan lain sebagainya.  Menurut para  ahli bahwasanya tahun ini adalah tahun gempa. Telah diprediksikan gempa yang terjadi ditahun ini jauh lebih banyak daripada gempa yang terjadi tahun kemarin. Dalam studi yang dimuat dalam jurnal Geophysical Research Letters, di jurnal tersebut mengungkapkan  bahwa akan terjadi banyak gempa yang diakibatkan oleh penurunan rotasi bumi pada tahun ini.

Indonesia berlokasi di cincin api pasifik (wilayah dengan banyak aktivitas tektonik), maka dari itu, indonesia harus terus menghadapi resiko-resiko yang akan terjadi nantinya dikarenakan letak indonesia saat ini. Selama 20 tahun terakhir, Indonesia menjadi topik pembicaraan media-media dunia akibat bencana-bencana alam yang mengerikan yang terjadi di indonesia yang menyebabkan kematian ratusan ribu manusia, hewan, serta menghancurkan seluruh wilayah yang terdampak oleh gempa (sehingga mengakibatkan kerugian ekonomi yang sangat besar).

Apalagi musim hujan atau kemarau yang ekstrim (fenomena El Nino dan La Nina). Badan meteorologi dunia (The World Meteorogical organization) meramalkan El Nino akan terjadi antara bulan Desember 2018 – Februari 2019 mendatang. Dalam kurun waktu 3 bulan tersebut tentunya masyarakat indonesia harus siap untuk mengantisipasi dampak dari El Nino ini. Baik dimulai dengan curah hujan yang sangat ekstrem dan juga perubahan suhu yang berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari, mulai dari gagal panen atau kerusakan sebagaian dari hasil panen. Menurut BMKG, El Nino tahun ini tak akan separah seperti tahun 2015. Disini peran pemerintah sangat dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia, untuk terus memantau daerah rawan bencana yang ada di Indonesia. Terutama pemerintah daerah yang diharapkan bisa selalu menindak lanjuti laporan perkembangan iklim dari BMKG.

Pemerintah indonesia meghimbau untuk seluruh kalangan masyarakat Indonesia baik dari kalangan anak kecil, remaja, dewasa, bahkan lansia untuk selalu siap siaga bencana dimana dan kapan saja supaya tidak lagi memakan banyak korban. Disini peran dari PMI (Palang Merah Indonesia) dibutuhkan untuk memberikan materi tentang pertolongan pertama hingga langkah-langkah yang harus kita lakukan saat menghadapi bencana. PMI sebagai lembaga sosial memiliki peran yang sangat strategis dalam kesiapsiagaan memberikan bantuan dan penanggulangan bencana. Dengan hadirnya PMI dan selalu bersinergi dengan BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) serta sangat membantu pemerintah daerah dalam memaksimalkan penanggulangan bencana dan pertolongan kepada para korban.

Nah, disini PMI sangat membutuhkan peran dari masyarakat dan terutama mahasiswa karena mahasiswa merupakan agen potensial dibidang penanggulangan bencana. Sejak zaman penjajahan belanda mahasiswa dikenang sebagai tombak perjuangan rakyat saat itu, karena sesungguhnya mahasiswa memiliki kemampuan yang beragam. Namun banyak dari mahasiswa yang melenceng dari apa yang diharapkan bangsa zaman sekarang. Memang secara umum, mahasiswa saat ini telah mengalami berbagai tantangan. Tentu tantangan yang dihadapi akan berbeda permasalahannya dengan zaman dulu. Sedangkan mahasiswa saat ini lebih gemar dengan gaya hidup yang hedonis tanpa peduli akan kondisi lingkungan ataupun masyarakat sekitarnya.

Pergerakan yang dilakukan PMI saat inilah yang dinilai sebagaian besar sangat baik, yaitu fokus dalam pengembangan SDM. Disini PMI lebih menekankan bagaimana caranya supaya dapat memberikan pelayanan secara maksimal dan bermutu kepada masyarakat. Ya, PMI akan mewadahi para mahasiswa yang biasa disebut KSR PMI (Korps Sukarela Palang Merah Indonesia) untuk ikut terjun langsung ke lapangan sebagai daya tambahan untuk ikut membantu mengevakuasi korban dalam suatu kejadian atau bencana. Karena selama ini kebanyakan dari mahasiswa yang paling pertama tiba kalau ada bencana di suatu tempat. Tapi ketika sampai dilokasi bencana, justru mereka cenderung dicurugai karena mereka datang secara pribadi bukan dibawah suatu kelembagaan. Nah, disini PMI mewadahi para mahasiswa untuk ikut bergabung sekaligus belajar akan cara menanggulangi bencana, dan lain-lainnya.

Melalui pelatihan manajemen bencana dan sosialisasi penanggulangan bencanalah pemerintah beserta PMI berharap bisa melakukan evakuasi dengan cepat ketika terjun di lapangan, sehingga dapat menangani  korban yang berjatuhan di tempat bencana. Tanggap dan cepat bertindak adalah ciri khas anggota palang merah. Membantu teman dan orang yang membutuhkan dengan perjuangan tanpa pamrih. Karena prinsip dasar palang merah bukan untuk dipuji, tetapi membuktikan bahwa kekuatan hati lebih berharga dari sekedar materi. Siamo tutti fratelli. (Terbit : Koran TangselPos, Edisi Kamis (18/01/2019))
Koran TangselPos



Writer :

Agus Ardiansyah
 @Agusardi130898
Kader PK. IMM ITB-AD



Sunday, January 13, 2019

Berharap Hasil Debat Sesuai Ekspektasi Masyarakat


Berharap Hasil Debat Sesuai Ekspektasi Masyarakat
"Karya : Hilmani Wan Syayuqoni "
Ilustrasi : TribunStyle.com - Tribunnews.com


Gonjang-Ganjing dan Polarisasi kekuatan Politik tampak pada tahun ini. Rangkaian agenda Pilpres 2019 sudah berjalan sejak 2018 lalu. Sekitar Seminggu lagi Debat Publik Calon Presiden(Capres)/Calon Wakil Presiden(Cawapres) akan digelar oleh KPU. Debat Publik adalah puncak sosialisasi untuk menggerakkan hati rakyat Indonesia agar bisa meyakinkan pada pilihannya. Dan bagi Capres dan Cawapres agenda ini adalah kesempatan emas untuk meyakinkan publik bahwa merekalah yang paling layak memimpin negeri ini lima tahun kedepan.

Konsep Debat pilpres pada tahun ini berbeda dengan tahun lalu yang menggunakan metode tertutup. Yang nantinya capres dan cawapres bisa menyiapkan jawaban yang bersangkutan dengan kisi-kisi yang telah di berikan KPU. Dengan mendapatkan kisi-kisi pertanyaan, pasangan calon diharapkan lebih mampu menyiapkan jawaban yang lebih mendalam.  Dengan metode ini, mungkin akan berkurang  aspek orisinalitasnya dari jawaban kandidat. Namun perlu dipahami sebelumnya makna dari konsep debat sendiri. Yang mana debat ini merupakan ajang sosialisasi bukan ajang talkshow maupun kuis yang penuh tebakan. Dan nantinya dengan konsep debat setengah tertutup ini dapat membuat masyarakat membuka mata atas program kerja yang mereka tawarkan serta meyakinkan masyarakat supaya mereka yakin akan pilihannya nanti. Tetapi hal itu sesungguhnya masih dapat diukur dalam segmen tertutup, ketika masing-masing kandidat mengajukan pertanyaan kepada satu sama lain. Dan debat pun bisa berjalan seperti diskusi normatif dengan jawaban-jawaban yang tidak lagi mengejutkan dan cenderung seperti hafalan.

Dengan metode tertutup, pemahaman akan program yang komprehensif itu kerap sulit didapat. Masyarakat sangat mungkin hanya memperoleh pemahaman yang sepotong-sepotong, karena para kandidat tidak siap menghadapi pertanyaan yang mendalam. Substansi program kemudian kerap terabaikan, dan publik hanya terpesona karena seorang Capres/Cawapres yang tampan, jago berpidato, menguasai panggung, dll. Akan tetapi dengan metode seperti ini para kandidat dapat menyajikan program yang menarik. Bukan seperti debat kusir dengan tujuan untuk saling menjatuhkan. Dengan dapat mengantisipasi jawaban lawan, dan setiap kandidat pun akan terdorong menyajikan sesuatu yang inovatif. Yang pada akhirnya apabila siapapun dari ,mereka yang terpilih nanti dapat mempertanggung jawabkan apa yang sudah dipaparkannya.

Momentum ini merupakan kesempatan bagi masyarakat untuk mendalami visi misi dan program kerja kandidat Capres dan Cawapres. Kombinasi berbagai persoalan yang dikeluarkan saat debat nanti menuntut perhatian dari dua pasangan capres dan cawapres yang sedang berlaga. Capres dituntut tidak saja mampu memetakan persoalan, namun juga ingin melihat konsep penyelesaiannya. Konsep yang disebut bukan sekedar janji-janji bombastis, akan tetapi publik mengharapkan program kerja yang konkret dan terukur.

Masyarakat harus cerdas dan kritis dalam memilih. Apapun yang disampaikan melalui debat merupakan aspek penting untuk disimak. Maka dari itu, Debat Capres dan Cawapres haruslah dibangun dengan kualitas yang bagus yang nantinya output dari agenda tersebut akan manghasilkan hasil yang bagus juga. (Tangsel Pos, Senin , 14/01/2019)
Picture : Koran TangselPos Edisi Senin, 14 Januari 2019

Writer :

Foto Penulis: 
Hilmani Wan Syayuqoni 
 @hill.one

Mahasiswa ITB- Ahmad Dahlan Jakarta

Kader KOPMA ITB-AD
Kader PK.IMM ITB-AD

Mahasiswa Harus Kritis! Bukan Hanya Eksis!


Mahasiswa Harus Kritis! Bukan Hanya Eksis!
"Karya : Hilmani Wan Syayuqoni "

Ilustrasi :  jabar.pojoksatu.id

Baru-baru ini saya tersadar bahwa ternyata mahasiswa sekarang  tidak sedang baik-baik saja. Dibalik zaman yang segala kemudahan tersedia dengan lengkapnya, ada ironi yang terjadi di kalangan mahasiswa. Contoh halnya pada kegiatan Laporan Pertanggung  Jawaban Organisasi kampus. Dahulu, Kegiatan tersebut merupakan ketakutan bagi pengurus. Karena Hal itu menjadi ajang dimana pengurus dicecar habis-habisan oleh anggota apabila ada laporan yang mungkin mengganjal bagi anggota. Akan tetapi, sekarang hal semacam itu sudah mulai hilang pada saat ini. Tidak ada lagi semangat membara dalam mengkaji, tidak ada lagi ganasnya  meminta penjelasan. Yang ada hanya iya-iya saja padahal banyak yang bisa dipertanyakan. Para anggota atau yang disebut juga mahasiswa lebih cenderung Apatis. Mereka meng iyakan apa yang seharusnya masih menjadi pertanyaan disitu. Karena pikiran mereka sudah tidak mau menganggap pusing dengan apa yang ada disekitarnya . Kejadian di atas pasti kerap kita alami, terutama mahasiswa hampir tua yang sudah banyak melihat pergantian pemangku jabatan politik kampus. Ya, begitulah adanya. Jika untuk isu yang sangat dekat dengan mahasiswa seperti kebijakan kampus saja kita tidak peduli, bagaimana dengan nasib bangsa Indonesia?
Menurut Chance (1986) mengatakan bahwa berpikir kritis adalah kemampuan untuk menganalisis fakta, mencetuskan dan menata gagasan, mempertahankan pendapat, membuat perbandingan, menarik kesimpulan, mengevaluasi argumen dan memecahkan masalah. Ternyata, mahasiswa sudah tidak lagi kritis, atau bahasa awamnya mulai muncul benih-benih apatis. Kita tidak lagi tergerak untuk menelaah dan mengkaji tentang apa-apa yang terjadi di sekitar kita. Kita lebih tertarik dengan hal-hal yang menyenangkan. Seperti menaikkan angka follower sosial media atau push rank game online. Tidak dapat dipungkiri sistem yang ada membuat kita terbuai dan makin jauh dengan masyarakat. Kita masih terbuai keromantisan perjuangan. Mengelu-elukan prestasi mahasiswa masa silam yang lekat dengan titel agen perubahan. Takutnya mahasiswa saat ini hanya bangga dengan Title tersebut, karena setiap hari kita merasa bagian dari pembuat perubahan, penyambung lidah rakyat, dan pembela kebenaran. Padahal, sudahkah kita peduli dengan keadaan di sekitar kita? Sudah sedekat apa kita dengan masyarakat? Perubahan apa yang telah kau upayakan? Siapa tahu itu hanya khayalan kita belaka.      Aksi demonstrasi mahasiswa yang kerap dilakukan mahasiswa pun terkesan belum maksimal membawa perubahan. Meskipun sangat perlu kita apresiasi, karena orang-orang tersebut adalah mahasiswa yang masih mau berpanas-panas membela rakyat Indonesia. Namun, cukup disayangkan ketika aksi hanya menjadi tradisi tanpa ada hal yang benar-benar mendasari. Lebih sering berujung anarki tanpa berakhir dengan solusi. Memaksakan diri padahal belum dengan seksama dikritisi.
Mahasiwa sekarang  sangatlah eksis, jauh dibanding pejuang-pejuang kita di masa dulu. Contoh halnya saja saat Demonstrasi. Mahasiswa tidak jauh dengan yang namanya Ponsel. Buat apa? Mereka sibuk Foto sana-sini demi eksistensi mereka, yang nantinya akan diunggah dimedia sosialnya. Yang harusnya demonstrasi sebagai  penyambung aspirasi rakyat,  akan tetapi sekarang aksi hanya dilakukan hanya ingin terlihat peduli. Sekarang curahan hati tentang mantan saja sudah ribuan yang melihat dan di-like. Entah like itu maksudnya memberi dukungan moril, atau suka kalau orang tersebut jomblo. Bandingkan dengan pejuang dahulu yang membagikan tulisan tentang rasa galau akan masa depan bangsa hanya didengar segelintir teman nongkrong. Hal-hal seperti cinta, barang elektronik baru, atau lagu baru lebih disukai dan lebih aman untuk kita suarakan. Membuat kita lebih eksis daripada kritis membahas isu-isu yang bermakna.
Nah sekarang, apakah eksis saja sudah cukup? Padahal sekali kita share status, akan ada ribuan bahkan jutaan yang membaca. Ternyata eksisnya kita itu tidak serta merta menjadikan kita agen perubahan. Ternyata mahasiswa ‘zaman old’ yang malah lebih sukses membawa perubahan, padahal komunikasi antar pergerakan saja masih harus surat-suratan. Demonstrasi besar-besaran dulu tidak mungkin dishare via grup WA ataupun Line. Pasti butuh effort yang sangat ekstra agar semua orang tahu tentang apa yang mereka suarakan. Maka dengan itu,  Mahasiswa yang sudah eksis ataupun belum untuk belajar menjadi lebih kritis. Karena dengan menjadi kritis, eksistensi kita akan membawa kebaikan yang lebih masif. Dunia maya butuh kita. Mari kita pertajam kepekaan dan sikap kritis kita terhadap keadaan di sekitar. Lalu kita sebarkan ilmu kita, agar menjadi penerang di kegelapan. Seperti filosofi gelas, tidak ada gelas yang benar-benar kosong. Jika tidak diisi air maka ia akan terisi dengan udara. Begitu pula dunia maya, jika tidak kita isi dengan berita baik, maka sudah pasti akan terisi dengan keburukan-keburukan. Ayo, eksis plus kritis biar tidak apatis apalagi anarkis. “Buka mata, lalu lihatlah dunia. Sadarlah bumi masih butuh kita. Buka hati, lalu perbaiki diri, karena ujian dari-Nya berawal dari sini.(Tangsel Pos, Sabtu & Minggu , 12-13/01/2019)


Picture : Koran Tangsel Pos, Edisi Sabtu & Minggu, 12-13 Januari 2019

Writer :

Foto Penulis: 
Hilmani Wan Syayuqoni 
 @hill.one

Mahasiswa ITB- Ahmad Dahlan Jakarta

Kader KOPMA ITB-AD
Kader PK. IMM ITB-AD


Monday, January 7, 2019

Gerakan Mahasiswa dan Implementasinya dalam Masyarakat


“Gerakan Mahasiswa dan Implementasinya dalam Masyarakat
Penulis : Fina Nur Aulia Saragih
Sumber : https://www.bagi-in.com/tri-dharma-perguruan-tinggi/
            Era milenial sekarang ini, gerakan mahasiswa merupakan hal yang begitu diperlukan dalam menyampaikan aspirasi rakyat. Mahasiswa bergabung menjadi satu dalam menyampaikan apa yang tidak sesuai dengan seharusnya. Ketika rakyat ditindas dan tidak memperoleh haknya, di saat itulah harusnya gerakan mahasiswa dijalankan. Dengan sifat yang kritis, watak yang keras, dan keinginan yang kuat untuk perubahan yang lebih baik menjadi nilai positif untuk mahasiswa menjadi pembawa perubahan di masyarakat.
            Sejarah pun berbicara bahwa gerakan mahasiswa atau pemuda menjadi sangat penting dalam perubahan negeri ini menjadi lebih baik. Seperti pada tahun 1915 dimana murid-murid Stovia mulai mendirikan sebuah gerakan yang dinamakan Trikoro  Dharmo, yang merupakan hasil awal dari momentum sumpah pemuda. Gerakan ini melawan tekanan-tekanan kolonial yang terjadi pada masa tersebut, dimana kolonialisme semakin semena-mena terhadap rakyat Indonesia. Oleh karena itu Trikoro Dharmo mendirikan gerakan Kelompok Belajar (Studie Club) sebagai wadah untuk masyarakat belajar.
            Contoh gerakan mahasiswa lainnya juga terjadi yakni pada tahun 1998, mahasiswa dan pemuda mulai bergerak berdasarkan atas kekuasaan Soeharto yang otoriter. Hal tersebut membuat mahasiswa yang ingin menyampaikan aspirasinya dibungkam, yang melakukan perkumpulan untuk diskusi dibubarkan, dan beberapa orang yang terlibat di dalamnya ditangkap.
            Dapat dilihat dalam sejarah, jika pergerakan mahasiswa dulu dilakukan dengan semangat yang berapi-api demi mengejar keadilan, dimana mereka sangat menyadari bahwa jika mereka tidak melawan, siapa lagi yang akan melawan?\
            Mahasiswa saat ini terlena dengan kemajuan teknologi dan kemudahan yang diterima, sehingga beberapa diantaranya mengabaikan teriakan-teriakan rakyat atas ketidak adilan yang didapatkan. Berdasarkan penelitian Jeffrey R. Anshel, pendiri Coorporate Vision Consulting sekaligus President Director Nutrition Society, rata-rata pengguna gadget rela menghabiskan waktu berjam-jam bahkan hingga berhari-hari untuk berinteraksi dengan dunia maya. Hal ini pula yang menyebabhkan mahasiswa hari ini lebih terlihat seperti aktivis dunia maya.
            Jika dilihat dari segi prestasi, pemuda saat ini cukup unggul dengan banyaknya prestasi yang diraih baik nasional maupun internasional. Baik dalam dunia olahraga seperti Joshua yang akrab disapa Jojo, beliau salah satu pemuda yang meraih mendali emas dalam bidang olahraga Bulu Tangkis cabang Putera di perlombaan Asian Games 2018. Kemudian ada juga mahasiswa dari Politeknik Elektronik Negeri Surabaya (PENS) yang meraih juara umum dalam Trinity College Fire Fighting Home Robot Contest.
            Namun permasalahannya adalah lemahnya rasa humanitas antara mahasiswa ini dengan masyarakat, hal tersebut rasanya sudah hilang tertelan zaman. Mahasiswa yang kono katanya sebagai penyambung lidah rakyat, dimana seharusnya melakukan gerakan-gerakan pembelaan, seperti yang ada dalam sejarah.
            Dewasa ini, mahasiswa sebaiknya perlu kembali membangun semangat gerakan yang pernah ada dalam sejarah, termasuk dalam hal humanitas yang perlu dibangkitkan, serta meningkatkan prestasi-prestasi yang sudah diraih saat ini. apabila mahasiswa saat ini bisa mencapai hal tersebut, maka tidak akan ada lagi yang namanya mahasiswa hanya menjadi aktivis dunia maya.
            Apabila mahasiswa kurang antusias dalam membela rakyat, juga kurang berinteraksi ataupun sosialisasi ke masyarakat, berarti ada yang salah dan mulai perlu diluruskan. Gerakan dalam membela rakyat dapat dilakukan dengan cara terjun langsung ke masyarakat dengan melakukan pemberdayaan ataupun memberikan bantuan lainnya, sebagai bentuk implementasi dalam hal humanitas.
            Label mahasiswa sebagai penyambung lidah rakyat yang dapat menyalurkan aspirasi-aspirasi rakyat akan kembali menggem, dengan kembalinya kesesuaian peran mahasiswa dalam masyarakat demi membawa perubahan bagi negeri ini menjadi lebih baik. Mahasiswa sebaiknya terus mengoreksi diri sendiri, sudahkan hari ini membawa perubahan demi keadilan rakyat? sehingga tidak terlupakan lagi bagaimana jati diri mahasiswa yang sesugguhnya. (Terbit Koran Tangsel Pos)



Picture Terbitan Koran Tangsel Pos










Writer :
Nama : Fina Nur Aulia Saragih
Asal : Mahasiswi ITB Ahmad Dahlan Jakarta (Kader KOPMA ITB-AD, Kader PK. IMM ITB-AD)

Instagram : @finanrls




Tuesday, January 1, 2019

Toleransi dan Kebebasan Beragama


 Toleransi dan Kebebasan Beragama
Ditulis Oleh : Dwi Panuntu

Ketua Pusat Pengembangan Ilmu Kemuhammadiyahan STIE Ahmad Dahlan Jakarta Bpk. H. Ahsin Abdul Wahab (kiri) dan Ketua Lembaga Dakwah Khusus PP Muhammadiyah Bpk. H. M.Ziyad (Kanan) memberikan tausiyah kepada Civitas Akademika dan beberapa Mahasiswa STIE Ahmad Dahlan Jakarta dalam acara rutinan pengajian bulanan. Jum’at (18/12)

Akhir tahun nampaknya menjadi bulan emas kegemilangan bagi umat manusia di seluruh penjuru dunia. Segala upaya dilakukan untuk menjemput tahun baru dengan berbagai macam persiapannya. Happy New Year menjadikan momentum terindah menurut sebagian di kalangan anak muda bahkan orang tua.
Sebelum Tahun Baru, tentu juga adanya perayaan Hari Besar Natal bagi umat Kristiani  yang di mana disebutnya sebagai hari kelahiran Yesus Kristus. Inilah yang menjadi pokok penyampaian tausiyah pada pengajian bulanan pada bulan ini yang dilaksanakan di Ruang Pertemuan Syahrir Nurut Lantai 2 dengan tema “ Toleransi dan Kebebasan Beragama” .
Dalam hal toleransi, ajaran islam sangat menjunjung tinggi terhadap nilai-nilai toleransi dan mengajarkan toleransi dalam beragama. Dalam pengajiannya, bapak H.M. Ziyad menyampaikan bahwa adanya 2 toleransi yaitu, toleransi pasif berarti adanya keinginan untuk tidak mengganggu orang lain, dan Toleransi aktif yaitu adanya keinginan menggelorakan/menggalakan untuk mengajak banyak orang supaya tidak mengganggu.
“Secara kontekstual memang bahwa toleransi beragama merupakan suatu sikap sabar dan menahan diri untuk tidak mengganggu dan melecehkan agama lain, maka dari itu orang yang bertoleran itu butuh kesabaran yang sangat luar biasa”, kata H. M. Ziyad.
Disamping itu, bertoleransi merupakan suatu penghormatan dalam hal nilai kemanusiaan. Ini dikatakan oleh Jabir bin Abdullah RA dan merupakan contoh toleransi terhadap semua manusia yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW bahwa ketika orang muslim bertemu maupun melihat jenazah yang melewatinya maka segera untuk berdiri, meskipun jenazah itu adalah jenazah orang yahudi. Namun, sering kita lihat dijalan raya jenazah dibawa memakai Mobil Ambulance, sebagai wujud penghormatan, maka kita haruslah minggir untuk memberikan jalan bagi Ambulance itu, bukannya mengambil kesempatan membonceng dibelakangnya. Isi pemaparan tausiyah yang di ambil dari Hadits HR. Bukhari.
Sikap Tauladan yang diajarkan Rasululloh terhadap toleransi beragama secara proposional, maka tidak ada larangan bagi umat islam untuk bergaul dengan agama apa saja yang penting tidak boleh untuk meyakininya. Saling hormat-menghormati antar sesama manusia menjadikannya hidup bermasyarakat terasa tentram dan damai.
Dalam konteks menghormati, kadang sebagai umat manusia belum memahami betul-betul terkait Peraturan yang diatur oleh masing-masing agama. Tentang ucapan selamat atas hari raya umat lain, misalnya “ Selamat Hari Natal”, PP Muhammdiyah dan MUI melarang hal ini (diharamkan). Karena kandungan fatwa dari Majelis Tarjih dan Tajdid PP muhammdiyah bahwa Umat Islam diperbolehkan bergaul dengan umat agama-agama lain dalam masalah keduniaan serta tidak boleh mencampuradukan, seperti meyakini Tuhan lebih dari satu, Tuhan mempunyai anak, dan Isa al-Masih itu anaknya.
Dalam penyampaian tausiyahnya, dijelaskan dengan suatu slide dialog sebagai berikut :
Maafkan aku saudaraku, aku tidak dapat MENGUCAPKAN SELAMAT NATAL buatmu.
Muslim       : “Bagaimana Natalmu?”
Crist             : “Baik, kau tidak mengucapkan selamat natal padaku?”
Muslim       : “Tidak, agamaku menghargai toleransi antar agama, termasuk agamamu. Tapi urusan      ini, Agamaku melarangnya..!” 
Crist             : “Tapi kenapa? Bukankah hanya sekedar kata-kata? Teman-teman muslimku yang lain mengucapkan padaku.
Muslim            : “Mungkin mereka belum mengetahui Christ, Bisakah kau mengucapkan dua kalimat syahadat?”
Christ               : “Oh tidak, aku tidak bisa mengucapkannya. Itu kan mengganggu kepercayaan saya..!”
Muslim         : “Kenapa? Bukankah hanya kata-kata? Ayo Ucapkanlah...!
Christ    : “ Sekarang saya mengerti...”
Dalam hal toleransi dijelaskan oleh beberapa rambu-rambu terkait toleransi yang diantaranya pertama, tidak ada paksaan dalam beragama yang dimana islam tidak mengenal konsep pemaksaan agama. kedua , toleransi dalam aspek mu’amalah yaitu dengan sikap toleransi bertetangga untuk saling tolong menolong, saling menghormati dan saling memuliakan. Ketiga, dalam aqidah tidak ada toleransi dimana dalam aspek sosial kemasyarakatan semangat toleransi menjadi anjuran, umat islam boleh untuk saling tolong menolong, bekerjasama dan saling menghormati dengan non muslim. Tapi, dalam soal aqidah tidak ada toleransi.
Namun, dengan perbedaan ini tetaplah mewujudkan suatu persatuan Indonesia yang dimana terdapat dalam makna “BHINNEKA TUNGGAL IKA” yang artinya Berbeda-beda tetapi tetap satu jua./ Dwi Panuntun

Writer :
Dwi Panuntun

Kader KOPMA ITB-AD Jakarta, Kader PK. IMM ITB-AD Jakarta