allwaygroup is the owner of www.allwaysdream.com

Kami adalah kelompok usaha yang memperoleh pendidikan melalui Koperasi Mahasiswa ITB Ahmad Dahlan, agar kami dapat Beridiri di atas Kaki Sendiri dan kami adalah anggota KOPMA ITB-AD

Kami adalah Kader Koperasi Mahasiswa Institut Bisnis Ahmad Dahlan Jakarta

Lakukanlah perubahan mulai dari sekarang, sekecil apapun itu mulai dari dirimu sendiri. KOPERASI BERDIRI MAHASISWA BERDIKARI

Space Available

Cocok buat iklan perusahan kamu.

Space Available

Cocok buat iklan perusahaan kamu.

Space Available

Cocok buat iklan perusahaan kamu..

Wednesday, April 24, 2019

RESPONSIF MAHASISWA DALAM MENGHADAPI POLITIK IDENTITAS


 RESPONSIF MAHASISWA DALAM MENGHADAPI POLITIK IDENTITAS

Oleh : Faisal Abdul Rachman


Berbicara tentang politik, tentu tidak terlepas dari kehidupan sehari-hari. Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri, oleh karena itu pasti terjadi interaksi diantara sesama. Setiap individu pasti menginginkan kesejahteraan, yang bisa didapat dengan berbagai cara, dan sesungguhnya kesejahteraan bagi setiap individu yang relatif.
Namun, dalam prosesnya pasti tidak seluruh posisi bisa di  tempati oleh setiap individu, maka dari itu terdapat persaingan menuju kesejahteraan itu, dalam hal ini berubah menjadi sebuah tujuan dasar yang hendak dicapai. Tujuan dapat dicapai melalui berbagai cara, kendati demikian usaha untuk menduduki suatu posisi agar dapat memiliki kewenangan dalam menata sebuah sistem dari skala yang lebih besar demi mewujudkan kepentingan serta cita-cita tertentu, itulah yang bisa kita katakan sebagai sebuah politik. Sederhananya, politik dapat ditemukan dalam berbagai unsur dan tingkatkan di keseharian masyarakat.
Definisi Politik Identitas
Politik adalah usaha yang di tempuh oleh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama. Dalam hal ini, saya ingin mengkaji politik dari segi pemerintahan dan kepentingan suatu negara. Setiap negara jelas memiliki warga/penduduk agar dapat berdaulat, setiap warga memiliki identitas masing-masing yang membedakan antar individu dengan individu yang lain. Identitas pada hakekatnya adalah cerminan diri sendiri yang menjadi pembeda yakni antara satu orang dengan yang lainnya.
Sedangkan dalam makna Identitas yang dikaitkan dalam sebuah bangsa adalah sebuah karakter yang menjadi jati diri sebuah bangsa, beserta pemahaman kehidupan bernegara dan pengetahuan yang ada di dalamnya. Identitas ada pada setiap manusia, begitu pula politik yang mengalir dalam kehidupan bermasyarakat, maka ada yang dinamakan dengan politik identitas, dan penting untuk mengetahuinya karena berhubungan dengan situasi politik beberapa tahun terakhir.
Politik identitas pada dasarnya adalah politik yang didasari atas kesamaan beranekaragaman bentuk sosial dalam masyarakat. Politik identitas ini dimanfaatkan untuk mendulang suara-suara dalam pemilihan demokrasi di berbagai belahan negara di dunia. Jika ditarik dari kesimpulan mengenai pengertian politik identitas dapat disimpulkan secara umum bahwa politik yang didasari pada kesamaan masyarakat yang terpinggirkan atau mencoba menghimpun kekuatan untuk meniadakan kelompok-kelompok tertentu.
Seorang  pepatah hebat Jerman pernah berkata “seburuk buruknya buta adalah buta akan politik” serasanya ungkapan itu sangat tepat melihat kontestasi politik dikanca nasional sekarang ini sedang berada dititik klimaksnya, terlebih-lebih praktek politik identitas yang sering dijadikan senjata bagi para calon untuk meraup suara dengan mengatasnamakan etnis,ras, agama atau golongan tertentu.
Peran Mahasiswa dalam Menghadapi Politik Identitas
          Mahasiswa tentu tidak boleh buta akan politik. Mahasiswa sebagai agent of change dituntut untuk kritis, melek, dan progesif terhadap dunia perpolitikan, sejatinya sebagai salah satu komponen yang progresif dalam menghadapi masalah perpolitikan, mahasiswa dipersatukan untuk menjadi satu tujuan yang sama, yaitu menjadi penyeimbang dalam pemerintahan, kemudian akan terjadi kesatuan aksi politik kelas yang progesif, yang mampu membuat kelopak mata para birokrat menghitam, membuat mereka ketakutan tidak karuan. Mahasiswa dituntut memiliki kesadaran politik karena tidak asing lagi bagi sebuah gerakan perubahan, sudah jamak terjadi apabila tiap gerakan mahasiswa memberikan yang terbaik bagi dunia perpolitikan.
Birokrasi yang dibangun dalam ranah perpolitikan di Indonesia sangat progresif dengan menciptakan relasi yang luas dan berbagai macam sinergisitas yang menjadi senjatanya, dalam artian lain berpolitik dengan sehat cenderung membangun asas sosialisasi secara meluas dan terkordinir sehingga mendapatkan peluang dalam berdakwah di dalamnya, berpikir mengenai politik bukanlah sebuah kegiatan yang negatif seperti masyarakat publik memandangnya dengan memiliki sifat pragmatis namun persepsi tersebut kurang relefan jika hanya memandang dengan satu sisi, di sisi lain ilmu politik sangat penting dimiliki oleh setiap masyarakat khususnya mahasiswa karena secaran kontekstual politik sama dengan mencerdaskan bangsa dan membangun kerangka berpikir yang dapat mengarahkan masyarakat untuk memiliki jiwa nasionalisme secara persuasi.
Identitas politisasi dimulai dengan melalui interprestasi secara ekstrim bertujuan untuk mendapat dukungan dari masyarakat luas yang merasa sama baik secara ras, entitas, agama, maupun elemen perekat lainnya yang sesuai dengan ideologi sebagai pengeratnya. Puritanisme atau ajaran kemurnian juga ikut andil dalam memproduksi dan mendistribusi ide kebaikan terhadap anggota secara satu sisi, di sisi lain menutup nalar perlawanan atau korektif anggota kelompok identitas tertentu.
Menyikapi politik identitas sebagai mahasiswa harus responsif dan bergerak cepat dalam menghadapi politik identitas. Pada politik identitias dapat digunakan dengan baik apabila dalam prakteknya di tunjukan untuk mencapai kesejahteraan masyarakat indonesia. Sebalikya apabila politik identitas tidak dimanfaatkan dengan baik tentu saja hal tersebut akan menjadi boomerang terhadap masyarakat kita sendiri. Realitanya politik memang dinamis, tidak hanya dalam memilih kawan atau lawan, tetapi juga dalam ideologi dan prinsip. Kita hidup di negara yang multikultular, maka dari itu kita sebagai mahasiswa yang berintelektualitas sangat menjunjung tinggi toleransi atau tenggang rasa untuk mendasari kehidupan di negara ini, karena itu adalah pondasi dasar dari persatuan dan berperan sebagai jembatan agar tercapai budaya politik yang sehat.
Peran Mahaasiswa Ditengah Kaum Milenial
Seiring dengan perkembangan zaman, kawula muda sekarang yang berjuluk generasi milenial nampaknya sudah lebih pintar dan cerdas memantau situasi perpolitikan nasional, sehingga rasanya sulit bagi mereka untuk didoktrin oleh pihak lain yang bersebrangan dengan pandangannya sendiri. Hal itu merupakan kemajuan tersendiri yang bisa dibanggakan dari generasi milenial sekarang, namun selain memiliki sisi positifnya tersendiri, tentu saja pandangan politik generasi milenial memiliki sisi negatifnya juga. Munculnya julukan milenial bagi generasi muda saat ini tidak pernah terlepas dari dampak globalisasi yang semakin berkembang pesat tanpa bisa dicegah perluasannya, rasanya sudah sulit bagi kita untuk tidak terpengaruh dampak globalisasi itu sendiri.
Pemuda saat ini memang sudah lebih paham politik, namun sayangnya pengetahuan seputar dunia politiknya masih terbatas, sebatas framing media yang sebetulnya masih harus dipertanyakan kembali kredibilitasnya, serta social media yang juga merupakan kendaraan baru bagi para elit politik untuk melakukan kampanye terselubungnya.
Framing media dan pasukan cyber yang telah disebarkan oleh beberapa pihak yang memang mempunyai kepentingan rasanya telah sukses merubah kiblat politik generasi milenial yang sekarang lebih percaya dengan kedua hal tersebut, padahal memahami politik sejatinya tidak bisa hanya sebatas dipahami lewat “opini” beberapa pihak yang kemudian diviralkan, tetapi memang harus dikuasai secara penuh dengan cara berpartisipasi dan terlibat secara langsung didalamnya untuk betul-betul paham serta menguasai ilmu dinamika perpolitikan.
Sebagai kawula muda yang memang merupakan generasi penerus bangsa kita dituntut untuk menjadi pembaca yang kritis, terlebih seorang mahasiswa yang dikenal sebagai “Agent of Change” yang memiliki keunggulan tersendiri disisi intelektualnya, mengingat mereka adalah golongon siswa yang beruntung karena telah mendapat gelar “maha” dan mengenyam bangku pendidikan yang lebih tinggi sehingga dianggap mampu dan dapat menjadi penerang ditengah redupnya praktik politik positif di Indonesia.
Mahasiswa mempunyai salah satu PR dalam rangka menghadapi Politik Identitas yang semakin kental merasuki setiap elemen dan golongan masyarakat. Tidak lepas dari pengaruh globalisasi, dewasa ini masyarakat milenial selalu menjadikan sosmed seperti Instagram, Facebook dan Twitter serta berbagai macam sosial media lainnya menjadi “kiblat” ideologi, pandangan dan presepsi mereka. Bak petir di siang bolong, dampak yang diciptakan oleh media sosial ini seperti efek domino yang terkadang sering kalap dan diluar kendali, sehingga seringkali sulit dibendung efeknya.
Mahasiswa harus selalu menyikapi persoalan yang beredar di sosial media dengan tenang dan bijak, pasalnya isu-isu yang sering digulingkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab menjadi masalah besar yang seringkali menghampiri masyarakat. Sikap dan perilaku mahasiswa harus jelas dan konkrit dalam menyikapi isu-isu tersebut yang seringkali menggiring opini publik. Setiap perilaku mahasiswa harus terus dijaga baik dalam dunia konvensional maupun dunia maya, begitupun dalam menanggapi politik identitas berkedok isu sosial dan SARA yang kerap menjadi viral dan menjadi topik yang santer beredar disetiap lini masyarakat.
Perjuangan itu tentu saja sulit untuk dilalui mahasiswa apalagi mahasiswa yang bergelar “mahasiswa masuk angin” yang malah akan memperkeruh suasana. Pentingnya untuk menjaga dan melindungi ideologi pancasila kita yang menjadikan setiap mahasiswa yang berperan dituntut untuk responsif dan juga progresif dalam menghadapi setiap problematika yang menerpa seperti bola panas yang bergulir ditengah masyarakat. Terdapat beberapa upaya untuk menanggulangi permasalahan diatas yang dapat dilakukan oleh mahasiswa untuk mengubah posisi isu politik identitas, dari ancaman kemudian menjadi peluang untuk mendorong optimalisasi penerapan ideologi Pancasila dalam rangka menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia baik dalam konteks politik, ekonomi, sosial dan kemasyarakatan.
Peran mahasiswa sebetulnya bukan hanya dalam konteks mendalami politik, tetapi lebih kepada penangkal dan penjaga dalam kiprahnya di dunia perpolitikan dalam negeri. Disamping itu sebagai mahasiswa wajib hukumnya untuk mengambil posisi netral dalam setiap gerakan politiknya, paling tidak ikut menyertakan nama ataupun mengatas namakan Persyarikatan dan organisasi dalam kegiatan politik apapun tanpa toleransi, apalagi gerakan tersebut hanya untuk hal cengceremet seperti meraih simpati masyarakat, menjatuhkan lawan, mendapatkan suara dan semua hal busuk lainnya dalam kedok apapun pada manuver politik semata. Tentu saja mahasiswa tidak bisa berjalan sendiri dalam menjaga netralitas politik dalam negeri, perlu adanya bantuan dan kerjasama dari berbagai unsur elemen masyarakat, serta sinergisitas antara pemerintah dan lembaga-lembaga swasta, organisasi kepemudaan dan kemasyarakat serta organisasi keagamaan lainnya untuk menciptakan keamanan dan kedamaian ditengah gejolak perpolitikan Indonesia.




---------------------------------------------------------------------------
Biodata Penulis :
Nama lengkap: Faisal Abdul Rachman
TTL:Jakarta/18-06-1998
Riwayat organisasi :
-Sekretaris Umum PK. IMM ITB-AD
-Ketua Bidang PSDA Kopma ITB-AD
-Sekretaris Bidang IMMADA ITB-AD
-Wakil Ketua Karang taruna Rw 06, Cipete Utara